Kamis, 04 Februari 2021

Keunikan Kolam Wisata Bungaeja

 

Keunikan Kolam Wisata Bungaeja



Salah satu tempat wisata yang lagi viral di Kabupaten Maros adalah Kolam Wisata Bungaeja. Saya dan teman teman yang lain penasaran di mana sih itu Bungaeja, dan apa keistimewaan dari tempat ini. Akhirnya kami bertanya ke teman-teman yang lain, di mana lokasi dan tempatnya. Menjawab penasaran kami dan setelah mendapatkan informasi yang cukup akurat, akhirnya kami memutuskan untuk kegiatan MGMP IPS SMP Kabupaten Maros pada tanggal 4 Februari 2021 di laksanakan di Kolam Wisata Bungaeja.

Kolam wisata ini dibangun di Desa Tukamasea. Kecamatan Bantimurung. Kawasan ini masih berada di kawasan hutan lindung Bulusaraung. Keunikan pertama dari kolam ini adalah biaya pembangunan kolam ini diambil dari dana desa dengan menghabiskan dana Rp1,1 Miliar. Kolam wisata ini diresmikan oleh Bupati Maros, H.M. Hatta Rahman pada tanggal 10 November 2020.

Dalam perjalanan menuju lokasi kami di suguhkan pemandangan gunung karst yang sangat indah dan hamparan persawahan yang menghijau dan ada bongkahan batuan karst berwarna hitam di tengah sawah. Kabut pagi masih menyelimuti sebagia gugusan gunung karst, menambah keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah melewati jalan yang berkelok dan mendaki mengikuti celah gunung dan akhirnya jalanan kembali ke penurunan menuju kolam wisata ini. Di depan pintu gerbang nampak sebuah pondok yang terbuat dari bambu dan di jaga oleh dua remaja dengan memegang karcis.

“Berapa harga karcis masuknya, Dik?” Tanyaku.

“5.000 rupiah pak “ jawabnya

Akhirnya kami pun memasuki area kolam setelah menyerahkan pembayaran karcis masuk. Nampak di dalam sudah berdiri beberapa warung warung yang terbuat dari bambu. Yang menjajakan makanan dan minuman ringan. Juga sudah berdiri sebuah warung yang agak besar semi permanen. Tempat inilah yang akan kami jadikan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan MGMP.  Dari tempat ini kita dapat menyaksikan kembali pemandangan yang sangat indah. Dua buah kolam renang kaki gunung dan di pinggir sawah, menambah keasrian dan kesejukan tempat ini.

Ada 2 jenis kolam permandian yang disediakan yaitu Kolam Anak dengan ketinggian air maksimal 70 cm, warna airnya biru karena tegel dasar berwarna biru. Kolam dewasa dengan kisaran tinggi maksimal 150 cm-160 cm, warna airnya hijau bukan karena kotor/keruh namun karena warna tegeln dasarnya berwarna hijau. Meskipun untuk menjernihkan air menggunakan kaporit namun tenang saja sumber airnya dari mata air alami yang berasal dari gunung yang ada di belakang kolam ini.

Fasilitas lain yang disediakan kolam wisata yaitu Musholla untuk sholat, Gazebo untuk makan atau nongkrong, pelataran kolam yang jumlah nya 2 bisa digunakan untuk kegiatan rapat, berkumpul atau kegiatan musyawarah organisasi, wc yang jumlahnya 4 untuk kegiatan mandi cuci kakus (mck), shower untuk membersihkan badan setelah mandi, selain itu karena kolam ini berdekatan dengan alam maka beberapa bidang tanah kosong disekitar situ di jadikan sebagai camping ground bagian atas kolam dan dibagian bawah kolam.

Karena wisata kolam ini masih tergolong baru dan masih dilakukan pembenahan oleh aparat desa untuk lebih mempercantik lagi tempat ini dan membuat pengunjung merasa lebih nyaman. Seperti pembangunan gasebo, jalan setapat di pinggir sawah. Ini akan lebih meningkatkan minat pengunjung dan tentunya akan menambah pendapatan desa. Sebuah kreativitas desa yang dapat di tiru yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

 

Maros, 4 Februari 2021.

 

 

Rabu, 03 Februari 2021

Pesona Air Terjun Bantimurung di Taman Wisata Alam Bantimurung

Pesona Air Terjun Bantimurung di Taman Wisata Alam Bantimurung

Oleh :

Amiruddin, S.Pd.




Tantangan menulis hari ketiga ini adalah saya akan menuliskan mengenai tempat pariwisata paling terkenal di Kabupaten Maros adalah Taman Wisata Alam Bantimurung.

Jika kita ke Sulawesi Selatan dan belum menginjakkan kaki ke Taman Wisata Alam Bantimurung, pasti kunjungannya tidak lengkap. Untuk mencapai Taman Wisata Alam Bantimurung yang jaraknya ± 18 KM dari kota Maros, ke arah timur. Jika dari Bandara Sultan Hasanuddin Maros hanya berjarak ± 20 km, kira kira perjalanan 30 Menit dari Bandara. Taman Wisata Alam Bantimurung berada di kawasan Taman Nasional Bulusaraung, yang terletak di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.

Bantimurung secara harafiah berarti gemuruh suara air. Asal nama Bantimurung menurut kabar di berikan  oleh Karaeng Simbang, yang merupakan raja dari salah satu kerajaan yang tergabung dalam “Toddo Limayya ri Marusu” ( persatuan adat lima kerajaan), yang merupakan cikal bakal berdirinya Kabupaten Maros.

Pesona alam di dalam kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung akan sangat mencengankan dan membuat hati merasa senang dan bahagia. Banyak spot dan obyek yang ada dalam kawasan ini yang menjadi ciri khas dan andalan bagi Pemerintah Kabupaten Maros untuk dapat menarik wisatawan menuju ke Kabupaten Maros.

Memasuki Taman Wisata Alam Bantimurung akan di tandai dengan memasuki gerbang besar yang bergambar  kupu kupu yang merupakan maskot dari tempat ini. Karena tempat ini memang memiliki spesies kupu kupu yang terbesar di dunia sehingga di juluki sebagai kingdom of butterfly.

Di sepanjang jalan menuju ke arah air terjun pengunjung akan di manjakan dengan keindahan alam pegunungan karst yang berada di sisi kiri dan kanan aliran sungai. Di sepanjang jalan di siapkan kursi yang sudah tertata dengan cantik dan rapi yang dapat di nikmati oleh para wisatawan untuk beristirahat sejenak dan tentunya untuk mengabadikan diri maupun berswafoto.

Di partai ini penulis akan membahas mengenai pesona air terjun Bantimurung. Primadona dalam kawasan ini adalah air terjun Bantimurung. Memiliki tinggi 15 meter dan lebar 20 meter, dan tidak memiliki palung di daerah jatuhnya curahan air. Inilah yang menjadi daya tarik dan keunikan dari air terjung Bantimurung. Sebab biasanya setiap air terjun akan membentuk palung yang cukup dalam di daerah jatuhnya curahan air.

Curahan airnya jatuh di batuan karst berwarna hitam yang sudah halus karena air ini membuat pengunjung dapat menikmati air terjun dengan aman  dan dapat bersenang senang di terpa langsung oleh air terjun. Jika musim kemarau maka air terjunnya akan berwarna putih bersih dan sejuk. Jika air terjun ini menerpa badan maka seperti refleksi pemijatan dengan menggunakan air.


Keindahan air terjun sudah tidak diragukan lagi, dikelilingi oleh pepohonan dan batuan karst di sisi kiri dan kanan menambah kesejukan berada di sekitar air terjun.

Selain menikmati air terjun pengunjung dapat menikmati selucuran alami dengan menggunakan ban dalam menikmati aliran sungai dari air terjun. Yah dari air terjun ini langsung terhubung dengan sungai bantimurung sehingga dengan arusnya yang cukup deras di pergunakan oleh pengunjung untuk menikmati luncuran dengan batuan karst yang sudah halus secara alami karena kikisan air.

Air terjun ini ramai di kunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara karena lokasinya yang mudah di jangkau dan harga ticket yang sangat terjangkau. Di sepanjang sungai dilengkapi dengan gasebo gasebo yang dapat dipergunakan untuk beristirahat, sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi bagi keluarga.



Ayo jika ke Sulawesi Selatan jangan sampai lupa untuk berkunjung ke Taman Wisata Alam Bantimurung Maros, yang memiliki air terjun yang sangat indah.

 

Penulis : Amiruddin, S.Pd.

Guru mata pelajaran IPS di SMP Negeri 23 Simbang Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan.

Tulisan ini dibuat selain untuk belajar menulis sebagai seorang guru, juga untuk mengikuti kegiatan lomba menulis di blog yang diadakan oleh PGRI dan akan menerbitkan buku ISBN yang di terbitkan secara gratis oleh YPTD.


Selasa, 02 Februari 2021

Jejak Manusia Purba di Taman Prasejarah Leang Leang di Kabupaten Maros

 

Jejak Manusia Purba

di Taman Prasejarah Leang Leang

Kabupaten Maros.







Taman Prasejarah Leang-Leang atau juga dikenal Taman Purbakala Leang-Leang adalah salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Maros yang menyajikan wisata edukasi tentang kepurbakalaan.Kata "Leang-Leang" dalam bahasa bugis  memiliki arti "gua". Taman prasejarah ini terletak pada deretan bukit kapur (karst) yang curam yang secara administratif berada di Lingkungan Leang-Leang, Kelurahan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. 



Lokasinya dapat ditempuh ± 15–30 menit dari Jl. Poros Bantimurung. Bantimurung yang merupakan jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone. Di taman ini terdapat banyak gua prasejarah yang menyimpan peninggalan arkeologis yang unik dan menarik. Para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat di sekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia sekitar 3.000-8.000 tahun SM. 




Bukti keberadaan ini ditandai dengan lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa yang sedang melompat, puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding-dinding gua. Terdapat 5 buah telapak tangan manusia purbakala yang ditemukan di Gua Pettae, terdapat pula 27 bekas telapak tangan yang ditemukan di Gua Petta Kere. Selain lukisan prasejarah, juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut. Keunikan lain adalah keberadaan sungai yang berada tepat di depan Gua Leang-Leang, singkapan batu kapur yang tersebar di areal persawahan penduduk, dan pemandangan Puncak Bulusaraung dari atas gua. Taman prasejarah ini jaraknya tidak terlalu jauh dengan Kawasan Wisata Alam Bantimurung yang merupakan objek wisata cukup diminati baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Gua Pettae ditandai dengan pagar besi setinggi 1,5 m. Dari pintu masuk sudah tampak gambar telapak tangan yang menjadi ikon gua ini. Terlihat lima gambar telapak tangan tetapi hanya tiga telapak tangan yang bergambar utuh.

Menurut masyarakat sekitar, gambar telapak tangan utuh memiliki makna menangkal bala sedangkan gambar telapak tangan dengan empat jari saja memiliki arti berdukacita. Gambar telapak tangan tersebut dibuat dengan teknik negative hand stencil yaitu menyemprotkan warna pada tangan kemudian ditempelkan ke permukaan dinding gua. Warna merah pada seluruh gambar ini diperkirakan berasal dari batuan mineral yang mengandung pigmen merah yang kemudian meresap ke dalam pori-pori dinding gua dan membuatnya bertahan hingga ribuan tahun lamanya.

 




Berjarak 300 m dari Gua Pettae, terdapat Gua Petta Kere yang dapat diakses melalui dua jalur. Jalur utama yaitu melewati akses yang sudah baik, jalur kedua dengan menaiki anak tangga di antara bebatuan yang menyempit. Suhu udara di dalam gua sekitar 30°C dengan tingkat kelembaban dalam rongga gua berkisar 70% sedangkan kelembaban dinding gua berkisar dari 15%-25%.

Di dalam Gua Petta Kere terdapat lebih banyak stensil telapak tangan. Terdapat 27 stensil telapak tangan, 17 stensil di antaranya merupakan stensil telapak tangan utuh. Selain stensil telapak tangan, terdapat juga gambar binatang yang sedang melompat dengan anak panah tertancap di bagian dada.

Taman Prasejarah Leang Leang memiliki pemandangan yang sangat indah dan gugusan bebatuan di lapangan dan persawahan menjadi spot foto yang sangat indah. Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan di tempat ini dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya mempelajari mengenai sejarah dan tentang batuan.




Jadi jika berkunjung ke Sulawesi Selatan, lebih khusus lagi ke Kabupaten Maros sempatkan untuk berkunjung ke Taman Prasejarah Leang Leang.

Senin, 01 Februari 2021

Wisata Kampung Karst Rammang - Rammang ( Menulis Wisata Part 1)

 

KAMPUNG KARST RAMMANG RAMMANG KAB. MAROS

Amiruddin, S.Pd.



Kampung Karst Rammang-Rammang terletak di Rammang-Rammang Maros di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Lokasinya sekitar 40 km di sebelah utara Kota Makassar. Untuk mencapai lokasi wisata ini, kita harus melewati Sungai Pute dengan menggunakan perahu.  Bisa dari dermaga satu maupun dermaga dua Rammang-Rammang, karena posisinya terletak di antara dua dermaga itu.


Sepanjang perjalanan menggunakan perahu dan menyusuri sungai kita akan di suguhi keindahan pemandangan gunung karst dan pohon nipah di sepanjang pinggir sungai. Dalam perjalanan kita akan melewati celah batu yang sangat eksotis.



Istilah Rammang-Rammang adalah istilah yang berasal dari bahasa Makassar yang berarti adalah awan atau kabut. Penyebutan istilah tersebut diduga kuat merujuk pada kondisi alam, dimana biasanya pada pagi hari kawasan tersebut selalu diselimuti awan dan terkadang kabut tebal. Rammang-Rammang merupakan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia khususnya Kabupaten Maros dari sekian banyak tempat keren lainnya. Baik dari kondisi di sekitar hingga tempat wisatanya yang masih terjaga. Bahkan tak sedikit yang datang untuk menikmati pemandangan dan melepas penat di tempat ini.



Tempat wisata Rammang-Rammang merupakan kawasan gugusan pegunungan kapur atau karst di Maros. Ada keindahan pegunungan karst yang cukup luas dengan adanya sungai dan area sawah yang cantik dan ada di sekitarnya. Bagi yang suka berburu foto indah tentu di sinilah tempatnya. Rammang-Rammang Maros diketahui memang terbentuk sejak lama yakni sekitar 30 juta tahun yang lalu. Tetapi di kawasan ini memang diperkirakan baru mulai dihuni manusia dengan 40 ribu tahun lalu. Jejak manusia di masa lalu itulah yang sampai saat ini masih bias dinikmati oleh para pengunjung melalui tulisan tangan ataupun simbol yang ada di dinding gunung.





Kita bisa menikmati pesona dari Telaga Taman Bidadari. Untuk mencapai Telaga Taman Bidadari kita melewati bebatuan kapur terlebih dahulu karena tempat dari TelagaTaman Bidadari ini berada di tengah-tengah pegunungan kapur. Objek wisata ini bias dibilang merupakan objek wisata ekstrem yang ditemukan dengan susah payah. Sementara untuk air dari Telaga Taman Bidadari ini asalnya dari celah batu kapur yang merupakan air tawar.


Gua Bulu Barakka yang letaknya juga tak jauh dari kawasan Hutan Taman Batu Kapur Rammang-Rammang. Sementara dalam bahasa Bugis, bulu berarti gunung dan barakka berarti berkah dari Yang Maha Kuasa. Di gua ini kita bisa menemukan arkeologi yang berupa cap tangan dan dipercaya merupakan cap tangan dari manusia purba yang hidup kurang lebih beribu tahun silam.

Gua Telapak Tangan satu jalur dengan Telaga Taman Bidadari yang kurang lebih jaraknya adalah 2 km dengan berjalan kaki. Di gua ini ada peninggalan arkeologi yang bisa Anda temukan berupa telapak tangan manusia purba, gambar binatang dan gambar perahu yang dihasilkan oleh manusia purba.

Gua Pasaung, gua ini merupakan gua yang ketiga dan berada di Desa Berua. Ada juga yang member nama sabung karena dulunya memang digunakan untuk melakukan tradisi atau hiburan yang berupa sabung ayam.



Kampung Berua ,Di dalam kawasan ada perkampungan yang di diami warga namanya Kampung Berua. Di kampung ini kita bias menemukan adanya pemandangan sawah yang asri dan menghijau dan masyarakatnya yang ramah. Ada pantulan pemandangan cermin yang begitu indah dan eksotis. Kampung Berua Maros, sebuah perkampungan yang di kelilingi gunung-gunung karst yang sangat unik menjulang tinggi dengan hutan tropis di sekelilingnya. Konon kabarnya, daerah ini merupakan tempat persembunyian para pejuang bangsa yang berada di sekitar Maros dan Pangkep Takkala.

Padang Ammarung adalah sebuah spot di atas bukit, dimana pengunjung bias melihat view Kampung Berua dari atas ketinggian. Spot ini menyajikan pemandangan sangat indah dari atas bukit. Untuk sampai kesini juga lumayan jauh jalannya.Pengunjung tinggal jalan lurus saja menyusuri pematang sawah dan tambak-tambak ikan, kemudian menyeberang jembatan kayu di atas aliran Sungai Pute. Kemudian memanjat bukit-bukit berbatu keabu-abuan, hingga tiba di puncak bukitnya.



Geliat Guru Maros dalam memperingati HGN ke 76 Tingkat Kabupaten Maros

HGN 76 Tingkat Kabupaten Maros Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Guru Nasional yang ke 76 yang jatuh pada tanggal 25 November 2021,...